<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>maspaul.com</title>
	<atom:link href="http://maspaul.com/news/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://maspaul.com/news</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 May 2011 01:54:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Video Andres</title>
		<link>http://maspaul.com/news/?p=39</link>
		<comments>http://maspaul.com/news/?p=39#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 05:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maspaul.com/news/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe title="YouTube video player" width="480" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/lT1NsjRoAVk?rel=0" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maspaul.com/news/?feed=rss2&#038;p=39</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesische vertaling van De stille kracht</title>
		<link>http://maspaul.com/news/?p=32</link>
		<comments>http://maspaul.com/news/?p=32#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 01:10:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Publication]]></category>
		<category><![CDATA[Kekuatan Diam]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Stille Kracht]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maspaul.com/news/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Door Peter Hoffman . 13 maart 2011 . Reageer Louis Couperus staat ook in het buitenland weer volop in de belangstelling, getuige de vele nieuwe vertalingen van zijn werk die in de afgelopen jaren verschenen. Helaas was een van Couperus’ beste romans nog niet beschikbaar in de taal van het land waar het verhaal zich [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Door <a title="Berichten van Peter Hoffman" href="http://www.louiscouperus.nl/author/admin/">Peter Hoffman</a> . 13 maart 2011 .   <a href="http://www.louiscouperus.nl/indonesische-vertaling-van-de-stille-kracht/#comments">Reageer</a></div>
<p><img class="alignleft" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Omslag van de Indonesische vertaling van 'De stille kracht'" src="http://www.louiscouperus.nl/wp-content/uploads/2011/03/vertaling-stille-kracht.jpg" alt="" width="90" height="90" />Louis  Couperus staat ook in het buitenland weer volop in de belangstelling,  getuige de vele nieuwe vertalingen van zijn werk die in de afgelopen  jaren verschenen. Helaas was een van Couperus’ beste romans nog niet  beschikbaar in de taal van het land waar het verhaal zich afspeelt. Daar  is nu dankzij de inspanningen van Christina Dewi Elbers verandering in  gekomen. Uitgeverij Kanisius te Yogyakarta gaf recentelijk <em>Kekuatan Diam</em> uit: <em>De stille kracht</em> (1900) in het Indonesisch.<br />
Christina Dewi Elbers is docente Indonesische taal- en letterkunde aan  de Universitas Sanata Dharma in Yogyakarta. Ten behoeve van haar  proefschrift , een vergelijkend onderzoek naar <em>De stille kracht</em> en <em>Bumi Manusia (Aarde der mensen, </em>1980<em>)</em> van Pramoedya Ananta Toer, leerde ze Nederlands. Gaandeweg besloot ze  om Couperus’ roman dan maar gelijk helemaal te vertalen, zodat deze nu  ook eindelijk voor Indonesiërs toegankelijk is geworden.<br />
In het volgende nummer van <em>Arabesken</em> zal Elbers uitgebreid  vertellen over haar vertaling, en de positie van het Nederlands en de  Nederlandse literatuur in Indonesië. Ook schrijft zij voor hetzelfde  nummer een essay over Couperus en Pramoedya Ananta Toer, waarin zij de  genoemde romans belicht aan de hand van begrippen als oriëntalisme en  postkolonialisme.<br />
<em>Kekuatan Diam</em> is voor 65.000 rupiah te bestellen via de <a href="http://www.kanisiusmedia.com/" target="_blank">website</a> van de uitgeverij.</p>
<p><a href="http://www.louiscouperus.nl/indonesische-vertaling-van-de-stille-kracht/" target="_blank">http://www.louiscouperus.nl/indonesische-vertaling-van-de-stille-kracht/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maspaul.com/news/?feed=rss2&#038;p=32</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belanda Tak Cukup Luas Bagi Mas Paul</title>
		<link>http://maspaul.com/news/?p=16</link>
		<comments>http://maspaul.com/news/?p=16#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 03:35:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Publication]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maspaul.com/news/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Diterbitkan : 30 Oktober 2010 &#8211; 6:51pm, Oleh Prita Riadhini Nama panggilannya mas Paul. Paul Elbers, dilahirkan di Hilvarenbeek, Belanda, 53 tahun lalu. Rela meninggalkan tanah kelahirannya, berkelana, mengeksplorasi musik dan melebarkan sayap. Mas Paul menemukan kedamaian di Yogyakarta. Hidup terus mengalir, biarkanlah sesuatu berjalan seperti apa adanya. Seluruh hidup Paul Elbers diabdikan untuk musik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diterbitkan  : 30 Oktober 2010 &#8211; 6:51pm, Oleh <a href="http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/users/prita-riadhini">Prita Riadhini</a></p>
<p><strong>Nama panggilannya mas Paul. Paul Elbers, dilahirkan di  Hilvarenbeek, Belanda, 53 tahun lalu. Rela meninggalkan tanah  kelahirannya, berkelana, mengeksplorasi musik dan melebarkan sayap. Mas  Paul menemukan kedamaian di Yogyakarta. Hidup terus mengalir, biarkanlah  sesuatu berjalan seperti apa adanya. </strong></p>
<p>Seluruh hidup Paul Elbers diabdikan untuk musik. Sejak jaman duduk di  sekolah dasar Paul kecil sudah mulai membuat lagu sendiri. Ia biasa  menciptakan lagu. Hampir semua aliran musik diminati oleh Paul Elbers  saat itu, dari klasik, hingga musik gereja dan musik pop.<span id="more-16"></span></p>
<p>Paul Elbers sempat juga bergabung dengan kelompok musik di Belanda di  antaranya dengan band yang musik rakyat. Dalam musik itu terdapat pula  campuran-campuran musik dari wilayah lain dan hal itulah yang  memperkenalkan Paul Elbers dengan musik Turki, dan Hongaria. Belanda  ternyata tidak cukup bagi Paul Elbers untuk berkreasi.</p>
<p>Tahun 1989 ia pindah ke Yogyakarta, mencari tantangan baru. Karyanya  terus mengalir, tercipta berdasarkan kata hati. Tidak ada kesengajaan  mencampurkan musik barat dan musik timur.</p>
<p>&#8220;Untuk saya tidak ada musik barat atau timur. Yang membedakan siapa?  Di sini yang main musik pop banyak, yang main gamelan di luar negeri  juga lumayan banyak. Dan itu tersebar dimana saja di Amerika, Inggris,  Belanda dan Jerman misalnya. Jaman sekarang ya sudah wajar.&#8221;</p>
<p><strong>Musik Saya</strong><br />
Mas Paul menambahkan ia tidak sengaja memadukan musik barat dan timur.  &#8220;Ya ketemu jadi otomatis dari hati sendiri. Bukan direncanakan, wah saya  sekarang mau campur barat sama timur. Tidak begitu. Saya sendiri  bingung&#8230;bikin musik apa? Ya musik saya lah&#8221;</p>
<p>Paul Elbers tidak menghiraukan bagaimana sambutan atas  karya-karyanya.  Yang lebih penting adalah dia bisa berkreasi  sebebasnya. Memang ada apresiasi terhadap karyanya. Contohya pengunjung  situsnya  <a href="http://www.maspaul.com/">www.maspaul.com</a> sekarang  sudah mencapai angka seribu setiap bulannya. Upayanya menjadi terkenal  di Yogyakarta juga dilakukan dengan main konser piano di hadapan  keluarga pencita musik Indonesia yang sering menggelar konser sekali  setahun.</p>
<p>&#8220;Sama teman-teman yang main klasik. Saya selalu main karya saya  sendiri.&#8221; Mas Paul tak jera untuk terus mengeskplorasi dan terus  menggali semua jenis musik. Namun seperti dikatakannya perkembangan  musik tradisional Indonesia mengalami hambatan antara lain karena soal  dana.</p>
<p><strong>Hambatan Dana</strong><br />
Mengembangkan musik tradisional di Indonesia merupakan tugas yang berat.  Yang kurang di Indonesia bagi para pemusik tradisional adala  fasilitasnya. Hal itu terjadi karena tidak ada dana. &#8220;Untuk kelompok  tradisional tidak ada duit, dan begitu juga kelompok klasik. Yang sukses  sebenarnya hanya musik pop saja.&#8221;</p>
<p>Karya-karya mas Paul yang sudah muncul antara lain berupa album  Xpression, Impression, Mas Paul Song for you. Namun seperti dikatakan  mas Paul. susah untuk menyumbangkan sesuatu untuk perkembangan musik  tradisional di Indonesia. &#8220;Saya tetap orang asing di Indonesia. dengan  limitasi dan batasannya.&#8221;</p>
<p>Untuk masa depan sebaiknya para pemusik Indonesia harus lebih berani   menampilkan dan mengeksplorasi musik tradisional Indonesia dan  membawanya ke pentas dunia.</p>
<p><a href="http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/belanda-tak-cukup-luas-bagi-mas-paul" target="_blank">http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/belanda-tak-cukup-luas-bagi-mas-paul</a></p>
<p><a href="http://www.republika.co.id/berita/senggang/sosok/10/11/01/143854-belanda-tak-cukup-luas-bagi-mas-paul-elbers" target="_blank">http://www.republika.co.id/berita/senggang/sosok/10/11/01/143854-belanda-tak-cukup-luas-bagi-mas-paul-elbers</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maspaul.com/news/?feed=rss2&#038;p=16</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika &#8220;Bumi Manusia&#8221; Disandingkan Dengan &#8220;De Stille Kracht&#8221;</title>
		<link>http://maspaul.com/news/?p=4</link>
		<comments>http://maspaul.com/news/?p=4#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 03:08:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Publication]]></category>
		<category><![CDATA[Kekuatan Diam]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Stille Kracht]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maspaul.com/news/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Diterbitkan : 24 Februari 2011 &#8211; 12:50pm &#124; Oleh Prita Riadhini Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan De Stille Kracht karya Louis Couperus sama-sama menceritakan Indonesia di zaman Hindia Belanda. Bumi Manusia mengangkat pandangan pengarang Indonesia, sedangkan De Stille Kracht dari kacamata orang Belanda. Christina Dewi Elbers yang sedang menyelesaikan studi S3-nya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diterbitkan  : 24 Februari 2011 &#8211; 12:50pm | Oleh <a href="http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/users/prita-riadhini">Prita Riadhini</a></p>
<p><strong><img class="size-medium wp-image-8 alignleft" style="margin-left: 20px; margin-right: 20px; border: 0pt none;" title="kekuatan_diam" src="http://maspaul.com/news/wp-content/uploads/2011/02/kekuatan_diam-204x300.jpg" alt="" width="204" height="300" />Novel <em>Bumi Manusia </em>karya Pramoedya Ananta Toer dan <em>De Stille Kracht </em>karya Louis Couperus sama-sama menceritakan Indonesia di zaman Hindia Belanda. <em>Bumi Manusia </em>mengangkat pandangan pengarang Indonesia, sedangkan <em>De Stille Kracht </em>dari  kacamata orang Belanda. Christina Dewi Elbers yang sedang menyelesaikan  studi S3-nya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, membandingkan kedua  buku tersebut.<br />
</strong><br />
<em> Bumi Manusia </em>bercerita tentang tokoh bernama Minke. Minke  adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang  dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa.</p>
<p>Buku itu menggambarkan kehidupan saat pemerintahan kolonialisme Belanda.  Di buku itu ditekankan pentingnya belajar yang dapat mengubah nasib.</p>
<p><span id="more-4"></span></p>
<p>Sementara <em>De Stille Kracht, </em>yang baru pertama kali diterjemahkan&#8211;padahal buku ini terbit pertama kali tahun 1900&#8211;oleh Christina Dewi Elbers dengan judul <em>Kekuatan Diam, </em>menceritakan  perbedaan budaya antara timur dan barat, dalam hal ini Jawa dan  Belanda. Novel itu bercerita tentang pemberontakan terhadap pemerintah  kolonial Belanda dan bangkitnya gerakan tak terlihat dari suku di  Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.</p>
<p>Novel <em>De Stille Kracht </em>ini kendati sebelumnya belum pernah  diterjemahkan, sering dikaitkan dengan sastra Hindia Belanda dan  dihubungkan dengan sastra Indonesia. Novel itu mengangkat seorang  Indonesia sebagai tokoh yang cukup penting.</p>
<p><strong>Keluarga Indo-Belanda</strong><br />
&#8220;Saya tertarik untuk melihat <em>De Stille Kracht </em>itu seperti apa, kemudian saya cari di internet, ternyata sudah pernah difilmkan. Dari situ saya lihat <em>setting-</em>nya mirip dengan Pramoedya, buku <em>Bumi Manusia. </em>Keduanya melukiskan pula keluarga indo Belanda yang morat-marit.&#8221;</p>
<p>Dalam <em>Bumi Manusia </em>diceritakan anak laki-laki Robert Mellema sempat memperkosa adiknya Anneliesse. Kemudian dalam novel <em>De Stille Kracht, </em>sang  ibu tiri Van Oudyck juga selingkuh dengan anak tirinya sendiri. Menurut  Dewi Elbers, kesimpulannya semua berasal dari keluarga bobrok.</p>
<p>Ia menambahkan, Pramoedya juga memberi perhatian atau kritik terhadap keluarga bangsawan, dalam <em>De Stille Kracht </em>juga  ada keluarga bangsawan. Van Oudyck sangat menghormati keluarga bupati,  tapi ternyata salah satu anak bupati terlibat judi dan minuman keras,  serta main perempuan.</p>
<p>&#8220;Dari situ saya tertarik untuk membandingkan apakah ada kesamaan, karena  saya lihat ada juga perbedaan. Lewat tokoh orang Belanda, Van Oudijck,  Couperus melihat mistik di Jawa dan dituangkan judul <em>Stille Kracht. </em>Sementara Bumi Manusia lewat tokoh Mienke melihat sistem pendidikan dan hukum Hindia-Belanda pada waktu itu.&#8221;</p>
<p><strong>Perbedaan Latar Belakang</strong><br />
Pramoedya sendiri dalam hidupnya terkenal sangat tidak suka dengan  feodalisme. Jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan bangsawan atau  birokrasi tidak disukainya. Karena itu dia menuangkan ketidaksukaannya  dengan perlawanan Mienke terhadap hukum Hindia Belanda.</p>
<p>&#8220;Pramoedya mengeluh, mengapa dalam pendidikan saya diajarkan untuk  menjadi orang adil, untuk berpikir adil. Tapi ternyata hukum Belanda  sendiri tidak adil terhadap warga pribumi. Sedangkan pada masa itu, kan,  orang Indonesia dianggap warga Hindia Belanda. Itu yang dilihat oleh  Pramoedya.&#8221;</p>
<p>Sudah banyak penelitian tentang Louis Couperus. Banyak tulisan yang  mengupas ingatannya soal Jawa dan tentang suara harimau, kemudian  tentang senja dan matahari terbit. Dan Couperus, lanjut Dewi Elbers,  sangat intens melukiskan hal-hal itu dalam novelnya.</p>
<p>&#8220;Selama ini orang mengenal hanya Pramoedya saja. Sedangkan <em>De Stille Kracht </em>sebagian besar belum pernah  membaca dan tidak tahu hal itu.&#8221;</p>
<p>Kesimpulannya, kedua pengarang membidik zaman Hindia Belanda. Tapi  akhirnya, semua kehidupan manusia punya nilai universal. Yang baik akan  selalu menang daripada yang jahat.</p>
<p>&#8220;Saya juga melihat banyak hal yang terjadi di zaman Hindia Belanda  ternyata di zaman sekarang masih banyak terjadi. Misalnya  ketidaktransparanan, kemudian korupsi. Dalam kedua buku tersebut,  terutama <em>Stille Kracht, </em>dibahas adanya korupsi. Jadi bupati Ngadiwo korupsi, dia tidak membayar gaji, dan menggelapkan uang untuk berjudi.&#8221;</p>
<p>Source: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/ketika-bumi-manusia-disandingkan-dengan-de-stille-kracht</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maspaul.com/news/?feed=rss2&#038;p=4</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

